Surat Untuk Kenangan
Hai,
Selamat berjumpa lagi kenangan,
Aku sudah lama tak berjumpa dengamu.Bahkan awalnya aku lupa bahwa kau tinggal di dalam sana dan tak berpindah kemana pun, awalnya.
Sebelum kau ada tentu saja terlebih dahulu ada sosok yang berhasil bekerja sama denganku untuk menciptakan dirimu.
Aku ingin meminta maaf kepadamu karena aku yang meninggalkanmu begitu saja. Maksudku, kita, aku dan dia.
Kau tahu? Saat itu aku begitu tidak ingin kehilanganmu yang tentu saja aku juga sangat tidak ingin kehilangan dia karena sekali lagi, adanya kau adalah sebab kerja sama ku yang baik dengan dia. Kita.
Kau harus tahu,
kala itu, kau lahir dari sebuah cakap yang sederhana namun tak ada habisnya. Kemudian, bertumbuh karena aku dan dia merawatmu hari demi hari dengan sesuatu yang dinamakan rasa. Hingga pada akhirnya, kau ada. Kenangan.
Dia berjanji padaku, maksudku, mengajak kita berjanji untuk terus merawatmu meski kita sama-sama tahu tak lama lagi kita harus berpisah. Tapi kita percaya, bahwa kau, kenangan, akan terus ikut bersama kita dimanapun kita berada.
Aku percaya, dan dia percaya.
Sampai pada terik matahari yang kedua puluh lima, dia tak lagi sama.
Dia, tak ingin lagi kau ikut dengannya. Aku tahu bagaimana rasanya dibiarkan begitu saja. Awalnya, aku tak percaya bahkan sempat marah.
Tapi, setelah ku pikir.
Untuk apa aku memaksa seseorang yang sudah tak ingin merawat 'kenangan' yang telah ia lahirkan sendiri dan yang paling membuatku sadar untuk apa aku merawat sendiri 'kenangan' yang sudah kita ciptakan. Untuk apa?
Ku rasa, itu sama sekali tak ada gunanya.
Jadi maaf, aku telah meninggalkanmu. Ini keputusanku, yang ku buat setelah ia meninggalkanmu terlebih dahulu. Maafkan kita ya, kenangan. Sampai jumpa. Aku harus meninggalkanmu, lagi.
-replikasenja.
Selamat berjumpa lagi kenangan,
Aku sudah lama tak berjumpa dengamu.Bahkan awalnya aku lupa bahwa kau tinggal di dalam sana dan tak berpindah kemana pun, awalnya.
Sebelum kau ada tentu saja terlebih dahulu ada sosok yang berhasil bekerja sama denganku untuk menciptakan dirimu.
Aku ingin meminta maaf kepadamu karena aku yang meninggalkanmu begitu saja. Maksudku, kita, aku dan dia.
Kau tahu? Saat itu aku begitu tidak ingin kehilanganmu yang tentu saja aku juga sangat tidak ingin kehilangan dia karena sekali lagi, adanya kau adalah sebab kerja sama ku yang baik dengan dia. Kita.
Kau harus tahu,
kala itu, kau lahir dari sebuah cakap yang sederhana namun tak ada habisnya. Kemudian, bertumbuh karena aku dan dia merawatmu hari demi hari dengan sesuatu yang dinamakan rasa. Hingga pada akhirnya, kau ada. Kenangan.
Dia berjanji padaku, maksudku, mengajak kita berjanji untuk terus merawatmu meski kita sama-sama tahu tak lama lagi kita harus berpisah. Tapi kita percaya, bahwa kau, kenangan, akan terus ikut bersama kita dimanapun kita berada.
Aku percaya, dan dia percaya.
Sampai pada terik matahari yang kedua puluh lima, dia tak lagi sama.
Dia, tak ingin lagi kau ikut dengannya. Aku tahu bagaimana rasanya dibiarkan begitu saja. Awalnya, aku tak percaya bahkan sempat marah.
Tapi, setelah ku pikir.
Untuk apa aku memaksa seseorang yang sudah tak ingin merawat 'kenangan' yang telah ia lahirkan sendiri dan yang paling membuatku sadar untuk apa aku merawat sendiri 'kenangan' yang sudah kita ciptakan. Untuk apa?
Ku rasa, itu sama sekali tak ada gunanya.
Jadi maaf, aku telah meninggalkanmu. Ini keputusanku, yang ku buat setelah ia meninggalkanmu terlebih dahulu. Maafkan kita ya, kenangan. Sampai jumpa. Aku harus meninggalkanmu, lagi.
-replikasenja.


Komentar
Posting Komentar